Loka POM di Kabupaten Indramayu terus menggencarkan kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) mengenai pencegahan stunting sebagai upaya memperkuat literasi gizi masyarakat. Langkah ini sejalan dengan arahan Badan POM yang secara nasional memonitor pelaksanaan KIE bertema stunting di seluruh UPT, mulai dari tahap perencanaan hingga realisasi kegiatan. Penguatan edukasi ini menjadi penting mengingat stunting masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat yang berdampak jangka panjang pada kualitas sumber daya manusia.
Permasalahan gizi yang umum dihadapi masyarakat meliputi wasting dan stunting. Wasting merupakan kondisi penurunan berat badan secara akut hingga berada di bawah standar kurva pertumbuhan, meskipun tinggi badan anak masih tergolong normal. Sementara itu, stunting adalah kondisi tinggi badan yang lebih rendah dibandingkan standar usia akibat kekurangan gizi kronis atau berulang. Faktor penyebabnya sering berkaitan dengan kemiskinan, kesehatan ibu yang kurang optimal, pola makan yang tidak seimbang, serta pola asuh yang tidak tepat pada masa awal kehidupan. Anak dengan berat badan kurang dapat mengalami wasting, stunting, atau keduanya sekaligus.
Dampak stunting tidak hanya terlihat pada masa kanak-kanak, tetapi juga berlanjut hingga dewasa. Anak yang mengalami stunting berisiko menghadapi hambatan perkembangan kognitif dan motorik, serta lebih rentan terhadap penyakit tidak menular seperti diabetes, stroke, dan penyakit jantung. Dari sisi ekonomi, stunting menimbulkan kerugian jangka panjang. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa kerugian ekonomi akibat stunting mencapai 2–3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Penelitian tahun 2021 bahkan memperkirakan kerugian mencapai 0,89–3,99% dari PDB, serta menurunkan pendapatan pekerja dewasa hingga 20%.
Untuk memahami mengapa intervensi pencegahan stunting harus dilakukan pada berbagai lapisan masyarakat, Teori Ekologi Bronfenbrenner menjadi kerangka analisis yang relevan. Teori ini menjelaskan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh lima lapisan lingkungan: mikrosistem, mesosistem, eksosistem, makrosistem, dan kronosistem. Mikrosistem (keluarga, sekolah) merupakan lapisan paling dekat dan paling berpengaruh. Pada lapisan ini, intervensi perilaku terkait konsumsi pangan bergizi dan keamanan pangan sangat penting. Mesosistem mencakup hubungan antar lingkungan mikro, misalnya interaksi antara sekolah dan keluarga. Eksosistem mencakup lingkungan yang tidak berinteraksi langsung dengan anak, tetapi memengaruhi kesejahteraan keluarga, seperti pasar dan fasilitas publik.
Dalam konteks ini, Badan POM mendorong penguatan faktor predisposisi melalui peningkatan pengetahuan orang tua, faktor penguat melalui keteladanan guru dan tokoh masyarakat, serta faktor pendukung melalui ketersediaan pangan yang aman di lingkungan sekitar.
Pelaksanaan KIE oleh Loka POM Indramayu dilakukan melalui berbagai kanal digital dan media sosial. Intervensi ini menyasar tingkat individu dengan harapan paparan informasi yang luas dapat membentuk norma subjektif baru terkait perilaku pencegahan stunting. Pendekatan ini sejalan dengan Theory of Planned Behavior (Ajzen) yang menjelaskan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh sikap, norma sosial, dan persepsi kontrol diri.
Selain KIE individu, Badan POM juga memiliki program berbasis komunitas yang memperkuat intervensi pada lapisan mesosistem dan eksosistem, yaitu Program Pangan Jajan Anak Sekolah (PJAS) yang memastikan keamanan pangan di lingkungan sekolah, Program Desa Pangan Aman yang memberikan edukasi keamanan pangan kepada keluarga dan masyarakat desa, Program Pasar Pangan Aman Berbasis Komunitas yang memastikan pasar menyediakan bahan pangan yang aman dan layak konsumsi. Ketiga program ini berkontribusi pada pencegahan stunting melalui pengurangan risiko penyakit infeksi yang dapat menghambat pertumbuhan anak.
Loka POM Indramayu mengajak seluruh masyarakat, orang tua, guru, mahasiswa, kader kesehatan, dan komunitas untuk berperan aktif dalam pencegahan stunting. Mulailah dari langkah sederhana, pilih pangan yang aman, terapkan gizi seimbang, jaga kebersihan lingkungan, dan dukung program keamanan pangan di sekolah, desa, serta pasar. Upaya kecil yang dilakukan bersama akan memperkuat lapisan mikrosistem hingga eksosistem sebagaimana dijelaskan dalam Teori Ekologi Bronfenbrenner, sehingga tumbuh kembang anak dapat berlangsung optimal dan berkelanjutan.